Pulau Banyak Adalah Gugusan pulau-pulau kecil di Kabupaten Aceh Singkil, Selatan dari Provinsi Aceh. Pulau Banyak yang terdiri dari gugusan pulau- pulau berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, tepatnya di ujung sebelah barat Pulau Sumatera. Sebagai daerah kepulauan, Pulau Banyak selain memiliki laut yang cukup luas juga pantai yang sangat panjang dan indah, pantai Pulau Banyak tidak kalah dengan Pantai-pantai lain di Indonesia. Pasir putihnya lebih lembut, lambaian daun- daun kelapa yang rindang semakin memperindah suasana tamasya dengan pemandangan alam pantai tropis. Indahnya panorama Sunset juga menjadi tontonan tersendiri yang mengasyikkan. Ada banyak sekali jumlah pulau yang tersusun rapi dan selalu membuat pandangan kita terpukau. Sulit sekali menjelaskan setiap keindahan yang dimiliki setiap pulau yang ada. Jika di Timur Indonesia punya surga bernama Raja Ampat, Bunaken dan Wakatobi, di barat Indonesia terdapat Pulau Banyak dan Sabang. Suatu anugerah dari Allah SWT yang harus dijaga dan disyukuri, tapi jangan untuk lupa dikunjungi.
Di
tengah peraduan malam di langit Jogjakarta, Terbesit dalam pikiran untuk
menuliskan pengalaman selama berada di Pulau Banyak, sambil berbagi pengalaman
dan mempromosikan keindahan kampung sendiri. Perjalanan ke Pulau Banyak ini
dimulai dari percakapan kecil di kampus FISIP, kita putera asli Aceh Singkil
selalu saja berusaha mempromosikan Pulau Banyak dimana pun berada, walaupun
kami sendiri belum pernah kesana. Sampai suatu ketika dua sahabat saya bertemu,
Ari anak medan dan Andri BK anak Aceh Singkil, mereka bertemu di kampus saat
sama sama berjuangan dengan skripsi.
“ BK, aku pengen ke Pulau Banyak ni ? tanya Ari,
“ Mudah tu, tenang saja ada boat Rahmat nanti, bisa kita pakai nanti pas di Pulau
Banyak “ Jawab BK sambil senyum begitu.
Beberapa hari kemudian
bertemulah aku dengan Ari, Ia berkata ingin ke Pulau Banyak dan sudah berbicara
dengan BK, Ari pun bercerita kepada ku tentang hasil diskusinya dengan BK, aku
tersenyum manis saat dibilang memiliki boat. Dalam percakapan itu aku tertawa
kecil mengingat kawan ku satu ini memang selalu begitu, jika sudah bingung
menjawab biasanya melemparkan kepadaku.
“ Aku tidak punya boat,
aku juga belum pergi ke Pulau Banyak. Gila BK tu ngarang dia. Insya Allah siap
sidang ini kita berangkat ya ri, yang penting sidang aku dulu “ Jawab ku dengan
logad khas Rimo. Akhirnya setelah
berdiskusi panjang di rumah dan sesekali di warung sate, kita memutuskan
berangkat setelah lebaran. Kisah kenapa kami berangkat ke Pulau Banyak sampai
disini saja ya, aku akan teruskan ke kisah bagaimana keindahan disana. Oa konon
asal muasal pulau banyak disebabkan pertempuran antara Tuan Tapa dan sepasang
naga, naga lalu marah dan memporakporandakan pulau. Pecahan pulau itulah yang
kini menjadi gugusan indah nan rapi. Sejarahnya berhubungan dengan asal muasal
Tapaktuan lo. Tapi ini dongeng ya, boleh percaya boleh tidak.
Perjalanan
ke Pulau Banyak tidaklah membutuhkan waktu yang lama dan budget yang besar.
Karena aku tinggal di Rimo, sehingga hanya membutuhkan waktu satu jam untuk
sampai ke pelabuhan Singkil, kemudian barulah dilanjutkan dengan Fery atau boat
nelayan sekitar 3 jam. Tujuan utama kita ialah pulau balai, ibukota dari Kecamatan
Pulau Banyak. Tapi ada satu kecamatan lagi yaitu Pulau Banyak Barat yang
beribukota haloban. Kami pun menjumpai teman yang putera asli sana, sambilan
menyiapkan semua perlengkapan kita diskusi mengatur pulau mana yang akan kita
kunjungi. Karena disini kita akan dihadapakan pada pilihan sulit menentukan
pulau yang kita kunjungi, soalnya semua memberikan nuansa dan cerita sendiri. Akhirnya
aku, Ari, Agus, Andri, dan putera asli pulau memutuskan untuk bermalam di Pulau
Asoek , dengan boat kecil kita duduk manis menikmati cahaya matahari yang mulai
tenggelam di peraduannya, di perjalanan itu juga aku bertemu Kak Deasi, Stoki
dan Aini saat dua boat saling berpapasan.
Pulau
Asoek
Pulau
ini tidaklah begitu jauh dari Pulau Balai. Pulau dengan pasir pantai dan
terumbu karang yang bagus, rindangnya pepohonan membuat kita nyaman untuk
bermalam. Dengan tenda dan makanan seadanya, aku dan kawan kawan sangat
menikmati berada di bawah kerlipan bintang disertai desiran ombak ombak kecil.
Setiap sudut pulau ini indah, terserah kamu mau mengambil gambar dari sudut
mana, dibawah terik matahari aku pun menghabiskan waktu berjam jam berenang sambil
memancing di tengah lautan bersama ikan ikan dan terumbu karang, luar biasa
sekali indahnya. Aku dapat dengan leluasa memilih ikan mana yang akan ku
pancing, memancing sambil menyelam di tengah sana. Kadar garam air laut disana
tidak begitu asin sehingga membuat kita leluasa berenang. Dari sudut manapun
kita berdiri, kita dapat memandang hamparan gugusan pulau. Saat itu aku bisa
selfie dengan latar belakang gugusan beberapa pulau, salahnya aku waktu itu
ialah lupa membawa tongsis “ Gagang Camera “. Ini ku perlihatkan gambar yang
diambil dari dua sudut yang berlawanan ya, dari sudut selatan dan utara pulau,
serta dari sebalik pulau tempat kami mendirikan tenda dan api unggun.
Kita
meminta izin untuk memanjat pohon kelapa kepada penjaga kebun yang kebetulan
datang memanen dari pulau Haloban waktu itu. Setelah puas menikmati kelapa
muda, kita pun memberanikan diri untuk meminjam boat agar lebih mudah bisa
ketengah memancing. Semua permintaan pun dikabulkan, mungkin rezeki anak sholeh
yang sudah lelah skripsi waktu itu ya. Waktu terasa begitu cepat
ketika berada disini. Kita berkemah hanya dua hari satu malam. Menikmati
matahari terbit dari ufuk timur dan tenggelam di barat negeri ini. Sebenarnya
ingin sehari lagi disini, tetapi karena ada agenda lain sehingga kita langsung
bergegas ke Pulau Tailana. Perjalanan pun dilanjutkan kembali dengan boat dan
nakhoda yang sama, dengan wajah terbakar aku pun santai menikmati hempasan
ombak dan pemandangan ikan yang saling berlompatan di samping kami.
Pulai
Tailana
Perjalanan
dari Asoek ke Tailana waktu itu sekitar
lebih dari satu jam. Sesekali boat kami harus mematikan mesin atau memperlambat
kecepatan, karena dangkalnya laut dan terumbu karang yang hampir mengenai mesin
boat. Pulau ini menjadi tempat favorit para bule untuk melabuhkan perjalanan,
bungalow sederhana di pinggir pantai menjadi tempat yang tepat melepaskan penat
badan. Pulau yang menjadi salah satu
pulau terbaik dari semua pulau di gugusan ini. Wisatawan Belgia, Amerika,
Belanda, Perancis, Spanyol dll silih berganti datang. Pulau ini lebih ramai
daripada pulau Asoek dikarenakan disini
ada bungalow dengan pengelolanya. Pulau Asoek memang tidak berpenghuni sehingga asyik untuk
menikmati keindahan pantainya, Terumbu karang yang cantik dan bagus membuat
para wisatawan suka diving dan snorkling. Tailana selalu memanjakan para
pecinta fotografi, dari sudut mana pun selalu indah dan membuat decak kagum
atas maha karya sang pencipta. Menikmati matahari tenggelam dan terbit seakan
membuat kita ingin berlama lama disana, obat atas kepenatan selama berjuang
bertarung dengan skripsi waktu itu.
Oa,
pemandangan disini tak kalah dari Asoek lo. Air lautnya tidak begitu asin dan ada
banyak burung yang sesekali lewat dan memberikan makan kepada anaknya, ikannya
juga tak kalah keren saat diajak bermain diantara terumbu karang.
Ada
banyak sekali cerita dan kisah menarik selama disana, karena waktu itu kita
harus secepat mungkin kembali ke banda Aceh maka kepulangan pun dipercepat.
Saat pulang dari pulau, banyak orang heran melihat wajah yang sudah seperti
terbakar oleh sengatan matahari, aku santai saja karena aku begitu menikmati
pertualangan selama disana. sudah ku siapkan ramuan agar bisa kembali seperti
semula wajah yang telah gosong ini. Semua pulau punya daya tarik dan keunikan
sendiri lo, ada pulau palambak pantainya yang biru, Bengkaru dengan penyu nya,
Asoek, Sikandang, Tailana, Biawak dll. Banyak banget dan sulit untuk
dituliskan, hehe. Karena aku sudah mengantuk, tulisan ini harus segera ku
akhiri. Namun sebelum ku akhiri, izinkan sedikit menyimpulkan sebuah perjalanan
menarik ini. Kenapa kita anak Aceh terlebih lagi anak aceh singkil sangat
disarankan ke Pulau Banyak ?
Supaya
kita tidak perlu repot – repot membuat pasport dan menabung dengan durasi yang
lama untuk melihat keindahan pantai beserta terumbu karang dan budaya
rakyatnya. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menikmati segala keindahan,
melainkan sebuah perjalanan jati diri melihat kebesaran Allah lewat segala
ciptaanNya. Perjalanan yang semakin menguatkan rasa cinta kepada kampung
halaman.
Tahun
ini kita ada misi kecil – kecilan dengan teman – teman sekampung, tapi bukan
seperti film 7 misi sophi ya. Misi kita ialah memperkenalkan kampung halaman
dengan segala keunikan dan kekayaan alam serta budaya nya, bergeraknya di media
sosial dan masa kok. Biar hemat dan tidak memakai biaya. Buat kamu anak Aceh
Singkil mari kita kenalkan Keindahan Pulau Banyak dan budaya lainnya kepada
teman, pacar, lingkungan kerja atau kampus serta di berbagai media sosial kita.
Bisa dengan memasang di DP BBM atau mempost di Instagram kita. Sekalian membantu
pemerintah mengembangkan dan mempromosikan Aceh Singkil ke dunia luar.
Oleh Rahmad Hidayat Munandar
Oleh Rahmad Hidayat Munandar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar